Pengrajin Tongkos Yang Masih Keturunan Cakraningrat IV, Bermula Dari Hobby, Lama-lama Keasyikan

0
1180

Suramadunews.com, BANGKALAN – Kalau Jawa memiliki Blangkon, maka Madura memiliki “Tongkos”. Tidak banyak yang tahu kalau tongkos ini merupakan bagian dari baju adat “agungan” yang biasa dikenakan oleh Raja dan para pejabat istana di masa lampau.

Tidak banyak yang tahu pula jika pengrajin tongkos di Kabupaten Bangkalan ini sudah hampir punah.

Adalah Agus Larendra, S.Pd, seorang anak muda yang awalnya tertarik untuk mempelajari pembuatan tongkos ini dari seorang pengrajin tongkos tradisional. “Kami belajar kepada beliau dan akhirnya memberanikan diri untuk membuat di rumah,” jelas Agus mengenang perjalanan kisahnya mengenal tradisi pembuatan tongkos ini.

Kami memulainya tanpa modal, lanjutnya. Kok bisa ? “Iya. Pada awalnya kami menggunakan kain perca atau potongan-potongan kain yang kami bentuk menyesuaikan kebutuhan untuk pembuatan satu unit tongkos,” jelas Agus.

Setelah dirasa baik dan layak pakai, maka dia memakai tongkos hasil kreasinya untuk dikenalkan ke teman-teman terdekatnya. “Alhamdulillah ada yang minat. Karena menurut mereka hasil kreasi saya dan teman-teman satu tim ini dinilai bagus banget,” lanjutnya.

Dari pesanan pertama itulah, Agus memutar dana awal hingga saat ini beromzet puluhan juta rupiah.

Selain tongkos original yang dibuat dengan menggunakan satu kain full tanpa jahitan, Agus dan teman-teman satu timnya juga berinovasi dengan membuat tongkos modifikasi. “Produk modif yang terakhir ini kami produksi bertema tongkos sunan kalijaga karena menggabungkan tongkos Madura dengan surban yang memanjang di kedua bahu pemakainya,” urai Agus.

Di masa pandemi penjualan tongkos menurun ? Tidak. “Justru pada masa pandemi ini kami panen pesanan tongkos dari seluruh daerah di Indonesia,” jawabnya. Bahkan, lanjutnya, saat ini dia sedang menyelesaikan pesanan dari Belanda. “Mereka malah memesan komplit. Tongkos dan baju adat agungan,” urainya.

Harga rata-rata tongkos produksi keturunan Cakraningrat IV ini adalah berkisar antara 75 hingga 150 ribu rupiah. “Tapi harga itu nggak standard juga. Bergantung permintaan bahan kain yang diminta konsumen,” jelasnya. “Kalau kainnya seharga 20 juta, maka harga tongkosnya bisa jadi terasa sangat mahal,” seloroh Agus. (Dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here