PDIP Sedang Memainkan Bidak Caturnya di Panggung Pilwali Surabaya

0
292

Suramadunews.com, Bangkalan – pengamat politik Univeritas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam mengamati bahwa pengaruh Risma (Tri Rismaharini) sebagai simbol pemimpin di Kota Surabaya masih terlalu kuat.

Oleh karenanya saat ini partai berlambang banteng tersebut sedang menyiapkan siasat pendomplengan terhadap sosok yang sangat dicintai rakyat Surabaya tersebut.

“Jauh sebelum penetapan waktu Pilwali Kota Surabaya ditentukan, spanduk-spanduk yang menyandingkan Eri Cahyadi dengan Risma sudah bertebaran di sepanjang penjuru kota,” ujar Rokim, sapaan akrabnya.

Hal ini menurutnya sangat wajar. “Selain secara personal, Eri ini sudah dekat dengan sosok Risma karena sama-sama dari birokrasi, juga karena insentif elektoral yang bakal didapatkan mereka (PDIP red.),” jelasnya. Upaya PDI mengeksploitasi atau menautkan simbol politik Risma dengan jagoannya adalah semata untuk memperoleh dukungan suara yang lebih besar (insentif elektoral red.). Siasat ini menurut Rokim, menjadi sangat wajar dalam dunia politik. Apalagi Risma juga diberangkatkan dari PDIP saat mencalonkan diri untuk kedua kalinya. “Dan pengalaman pernah di birokrasinya juga sama,” urainya. Bukan hanya karena faktor ke-tidak percayaan diri saja, lanjutnya.

Lebih jauh Surokim juga mengamati bahwa Faktor Risma ini menjadi sangat dominan dalam Pilwali Surabaya. Dan PDIP tahu betul itu.

Masyarakat Surabaya sudah terbiasa dengan gaya Risma yang sangat melekat di hati mereka. “Sehingga transfer power sangat diperlukan oleh jagoan yang diusung oleh PDIP ini untuk memenangi Pilwali depan,” kata Rokim.

Kendati demikian, menurut Rokim, langkah Eri tidak lantas menjadi mudah. Kader baru PDIP itu tetap harus berjuang lebih keras. “Kedekatannya dengan Risma tak lantas secara otomatis mendulang suara di konstituen,” cetusnya. Nama besar Risma justru menjadi beban buat Eri.

“Ini beban sekaligus tantangan. Orang akan menunggu apakah Eri bisa keluar dari bayang-bayang Risma atau tidak ?” ujarnya setengah bertanya.

Eri harus bisa menjawab ekspektasi publik. “Bahwa dia hadir bukan hanya sebagai suksesor semata. Tapi dia memiliki kapasitas setara atau mungkin lebih progresif dibandingkan Risma,” tegasnya.

Sekedar diketahui kedekatan Eri dan Risma ini dimulai sejak tahun 2001 lalu. Sejak tahun itu Eri sudah aktif menjadi birokrat disejumlah kedinasan Pemerintah Kota Surabaya. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bappeko Surabaya.

Meski banyak kesamaan, namun menurut Rokim, Eri dan Risma adalah dua entitas yang berbeda. Meski sering disebut-sebut sebagai penerus Risma, namun publik belum yakin 100%.
Eri bukan Risma. Itu yang beredar di sebagian masyarakat Kota Surabaya.

Apakah publik Surabaya mau menerima Eri sebagai pengganti Risma. Ataukah Eri mampu meyakinkan publik bahwa dialah calon yang paling pantas menggantikan posisi Risma ? Kita tunggu saja pada tanggal 9 Desember 2020 nanti. (Dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here